Wednesday, July 17, 2019

ADMINISTRASI SISTEM JARINGAN


BAB I
SISTEM OPERASI JARINGAN


A.        Tujuan Pembelajaran
1.   Melalui diskusi dan penjelasan diharapkan peserta didik mampu memahami mengenai konsep sistem operasi jaringan
2.   Melalui diskusi dan penjelasan diharapkan peserta didik mampu memahami mengenai Jenis system operasi open source dan close source
3. Melalui praktek dan penjelasan diharapkan peserta didik mampu melakukan instalasi system operasi jaringan

B.       Konsep Sistem Operasi Jaringan
Sistem  operasi  server,  tidak  berbeda  layaknya  seperti  sistem  operasi desktop biasa. Mereka bisa dipasang berbagai macam aplikasi, digunakan untuk  manipulasi  teks, bermain game.  Hanya saja,  mereka  dikhususkan untuk menangani jaringan lebih cepat dari biasanya, dengan mengorbankan beberapa fitur sistem operasi desktop.

Kenapa  harus  menggunakan  sistem  operasi  server?  Pasalnya,  sistem operasi server telah dikhususkan untuk keperluan jaringan, kemampuan mereka sudah dioptimalkan untuk mengatasi hubungan dengan jaringan. Seperti multi-user, kemanaan, stabilitas dan kolaborasi
Sistem operasi jaringan memiliki kakrakteristik sebagai berikut:
-    Mendukung penggunaan oleh lebih dari satu user
-    Menjalankan aplikasi yang mampu digunakan oleh lebih dari satu user
-    Stabil  (robust),  dimana  kecil  kemungkinan  untuk  terdapat  error  pada  program.
Robustness adalah istilah untuk menunjukkan kemampuan suatu sistem komputer menangani masalah yang terjadi selama digunakan oleh user.
-    Memiliki tingkat keamanan data yang lebih tinggi dari sistem operasi desktop.
Berikut ini adalah sistem operasi jaringan yang banyak digunakan saat ini.
-        UNIX/Linux, ini merupakan sistem operasi yang paling banyak digunakan sebagai server saat ini, contoh sistem operasi jaringan dengan linux diantaranya adalah Red Hat, Caldera, SuSE, Debian, Fedora, Ubuntu dan Slackware.
-      Novell  Netware,  di  tahun  1980-an,  ini  merupakan  sistem  operasi  pertama  yang memenuhi semua persyaratan untuk membangun sebuah jaringan komputer lokal.
-      Microsoft Windows, masih dari perusahaan yang sama, Microsoft juga mengeluarkan Windows Server sebagai sistem operasi jaringannya, mulai dari versi awalnya adalah Windows Server 2000, hingga yang terakhir Windows Server 2012.
Selain memiliki fungsi-fungi manajemen diatas, sistem operasi modern juga dapat memiliki kemampuan sebagai berikut:
-    Multi-user dua atau lebih user dapat bekerja sama untuk saling berbagi pakai penggunaan aplikasi dan sumber daya seperti printer pada waktu yang bersamaan.
-    Multi-tasking sistem operasi dapat menjalankan lebih dari satu aplikasi user.
-    Multi-processing sistem operasi dapat menggunakan lebih dari satu CPU (Central Processing Unit).
-    Multi-threading   setiap  program  dapat  dipecah  ke  dalam  thread-thread  untuk kemudian dapat dijalankan secara terpisah (pararel) oleh sistem operasi. Kemampuan ini juga termasuk bagian dari multitasking pada aplikasi.
Sistem Operasi 32-bit dan 64-bit
Terdapat dua perbedaan antara sistem operasi 32-bit dan 64-bit.
-     Sistem operasi 32-bit hanya mampu menerima RAM maksimal 4 GB, sedangkan sistem operasi 64-bit mampu menggunakan lebih dari 128 GB RAM.
-     Manajemen memori dari sistem 64-bit juga lebih baik, sehingga mampu menjalankan proses pada aplikasi lebih cepat.
Windows, Ubuntu dan OpenSuSE merupakan beberapa contoh sistem operasi yang mendukung arsitektur 32-bit.

2.    Prinsip dan cara kerja system operasi jaringan
Sistem operasi server bekerja secara kritikal, harus terus menyediakan layanan pada pengguna. Pemilihan sistem operasi yang tepat menentukan kekuatan server untuk melayani pengguna.
Sistem operasi server merupakan pondasi awal dari sistem server. Di atas sistem operasi server bisa dipasang aplikasi yang mendukung kebutuhan sistem, seperti web server, ftp, dns, dsb.
Sistem operasi dipilih berdasarkan kemampuan administrasi, keamanan, stabilitas, fitur, skalabilitas, dan dukungan aplikasi pihak ketiga. Dengan aplikasi ini, sistem operasi bisa memberikan kemampuan seperti berbagi file dan printer, melayani penyimpanan data, layanan web, perpesanan, terminal, dsb.
Vendor  server  menetapkan  lisensi  masing-masing,  pemilihan  lisensi yang  tepat mempengaruhi faktor  skalabilitas server kita. Lisensi tiap vendor berbeda-beda, ada yang menetapkan berdasarkan jumlah pengguna, ada yang menetapkan berdasarkan jumlah CPU, dsb.
  
C.             Intalasi System Operasi Jaringan Menggunakan Virtual Box
Pada praktikum ini akan dilakukan instalasi sistem operasi Debian dengan menggunakan virtualisasi. Persiapan yang perlu dilakukan diantaranya adalah:
-       Sistem operasi yang digunakan untuk instalasi ini adalah linux Debian
-       Aplikasi VirtualBox, yang digunakan saat ini adalah versi 4.3.6 r91406. Unduh aplikasinya di alamat http://www.virtualbox.org.
-       File image Debian dalam format ISO. Versi yang digunakan saat ini adalah Debian Wheezy 7.3 (debian-7.3.0-i386-DVD-1.iso). File-nya dapat diunduh pada alamat http://debian.org. Apabila ingin menggunakan distro lainnya disarankan untuk membaca panduan instalasi yang disertakan pada situsnya atau forum diskusi terkait.
-       Demi kelancaran proses instalasi, koneksi internet sementara dapat dinonaktifkan.
-       Pastikan ada ruang kosong minimal 8 GB, misalnya pada kasus ini komputer virtual akan disimpan di drive D karena masih memiliki ruang kosong sebesar 11 GB.
Langkah - langkah instalasinya akan dibagi menjadi 5 tahapan besar, yakni:
-  Konfigurasi virtualbox untuk melakukan menempatkan file komputer virtual pada    drive D
-  Pembuatan komputer virtual debian
-  Penyertaan file image Debian
-  Penentuan urutan booting
-  Instalasi Debian

Konfigurasi VirtualBox
Tahapan ini dapat dilewati jika ingin menyimpan komputer virtual di lokasi bawaan VirtualBox, yakni di drive System Windows (biasanya drive C). Apabila menggunakan sistem Linux, secara default lokasi instalasi komputer virtual ada di lokasi direktori home masing-masing user (biasanya di filesystem /home).
1. Pastikan aplikasi VirtualBox telah terinstal. Bukalah aplikasi VirtualBox.
2. Buka menu File > Preferences… atau dapat dengan menekan Ctrl + G.
3. Pada tab General > untuk input Default Machine Folder pilih opsi Other kemudian tentukan lokasi file komputer virtual akan disimpan, misalnya pada lokasi D:\DATA\VirtualBoxDisk.
4. Untuk menyelesaikan tekan OK.

Pembuatan Komputer Virtual Debian
1.        Pada aplikasi VirtualBox buka menu Machine > New atau toolbat New atau tekan Ctrl + N untuk membuat komputer virtual baru.
2.        Pada window yang muncul, untuk entri Name: isikan dengan “debian” tanpa tanda kutip seperti gambar berikut. Selanjutnya klik Next.
3.        Pada window berikutnya, isikan memori maksimal dari komputer ini yang akan digunakan untuk menjalankan komputer virtual ubuntu. Pada kasus ini isikan dengan 512 MB, disarankan kalau mampu isikan nilai 1024 MB, yang penting tidak melewati batas hijau dari bar
4.          Pada window berikutnya, penentuan besarnya harddisk yang akan digunakan untuk komputer            virtual ubuntu. Pilih Create a virtual hard drive now
5.        Pada window berikutnya, pilihlah jenis hard drive VDI (VirtualBox Disk Image). Kemudian klik Next.
6.        Pada window yang muncul pilih Dynamically allocated, kemudian klik Next.
7.    Pada window ini, biarkan tetap 8 GB untuk ukuran hard drive-nya. Klik Create untuk melanjutkan.

Penyertaan File Image Debian ke Komputer Virtual
1.    Masih pada aplikasi VirtualBox, klik kanan pada komputer virtual debian yang baru saja dibuat kemudian pilih Settings….
2.    Pada window yang tampil pilih tab Storage dan klik tree Emtpy yang berada di bawah Controller: IDE.
3.    Klik tombol untuk mencari file image Debian yang telah didownload sebelumnya.
4. Terakhir klik tombol OK untuk menyelesaikan.
Penentuan Urutan Booting
Langkah ini penting dilakukan untuk dapat mengatur urutan pencarian booting sistem operasi.
1.    Dari aplikasi virtualbox akses kembali window Settings dari komputer virtual debian.
2.    Pilih tab System dan pastikan pilihan Boot order menempatkan CD/DVD diatas Hard Disk, apabila belum klik CD/DVD dan gunakan tombol atau untuk menaikan atau menurunkan, sehingga seperti tampilan berikut.

3.    Kemudian klik OK untuk menyelesaikan. Dengan ini booting akan lebih dulu mencari ke CD/DVD dibandingkan Hard Disk. Selanjutnya lakukan instalasi system operasi Debian seperti biasa

    D.   Manajemen User dan Group

Level administrasi tertinggi ada pada akun utama sebagai super user, yaitu root. Root memiliki kemampuan untuk membuat user baru, ataupun menghapus user yang sudah ada.


Perintah adduser digunakan untuk menambahkan user baru. Caranya dengan mengetik adduser <nama_pengguna> , maka akan membuat user baru dengan nama yang sudah dimasukkan.
Setelah nama pengguna dimasukkan, maka diminta untuk memasukkan kata sandi untuk pengguna tersebut, dan informasi yang berkaitan denganya.
Ketikan  logout  untuk  keluar  dari  sesi  root.  Lalu  masuk  sebagai pengguna yang baru saja dibuat, dalam kasus ini nama penggunanya adalah bill dengan kata sandi gates.
Sebelumnya, saat kita masuk sebagai root, prompt dari command line berbentuk


Namun saat kita sudah berganti user, dan masuk sebagai bill, maka
prompt dari command line berbentuk


Tanda  ~  atau  tilde,  menunjukkan  posisi  direktori  yang  sedang  aktif. Dalam kasus ini bill tidak aktif didirektori manapun.
Sekarang, coba logout dan masuk lagi sebagai root. Ketikkan perintah berikut,

 Keluar dari bill, masuk lagi menjadi root, dan menggunakan perintah userdel –r <nama_pengguna> untuk menghapus semua data di direktori /home pengguna dan juga pengguna tersebut.
Administrasi Group

Beberapa user yang memiliki hak akses yang sama, bisa dimasukkan kedalam  sebuah  group.  Group  sangat  berfungsi  sehingga  kita  tidak perlu membatasi hak akses terhadap user satu per satu.

Untuk membuat group, ketikkan perintah berikut.



KONFIGURASI ALAMAT IP

Ada dua jenis konfigurasi alamat IP yang dapat diterapkan, yakni Otomatis melalui server DHCP dan manual.
Konfigurasi Otomatis Melalui Server DHCP
1.  Bukalah file /etc/network/interfaces menggunakan nano.

nano  /etc/network/interfaces

2.  Tambahkan atau modifikasi baris berikut pada file. Sesuaikan eth0 dengan perangkat jaringan yang terdeteksi oleh Debian.
auto eth0
allow-hotplug eth0 iface eth0 inet dhcp

3.  Tutup dan simpan file yang telah diedit tersebut. Setelah itu, jalankan perintah berikut

untuk mengaktifkan konfigurasi alamat IP yang telah dibuat.

/etc/init.d/networking restart

Konfigurasi Alamat IP Manual
1.  Buka kembali file /etc/network/interfaces dan tambahkan/modifikasi baris berikut. Pada contoh   ini   alamat   yang   digunakan   adalah   192.168.56.112/24   dengan   gateway 192.168.56.100. Sesuaikan kembali konfigurasi ini untuk alamat yang berbeda.

auto eth0
iface eth0 inet static
address
192.168.56.112
netmask
255.255.255.0
gateway
192.168.56.1

2.  Setelah  selesai  simpan  dan  restart  kembali  servis  jaringan  menggunakan  perintah sebelumnya.

Untuk mengetahui berhasil tidaknya konfigurasi yang telah dibuat, gunakan perintah berikut ini.
# If config




Daftar Pustaka
2.     2017. Buku ajar/Modul Sistem Administrasi jaringan kelas XI.Surakarta. Putra Nugraha
3.     Kadek Surya Pranata, 2013. System Operasi Jaringan, Malang, P4TK BOE/VEDC Malang

No comments:

Post a Comment